Positif, Kreatif, Tetap Berdiri…

“NEGATIF, positif! Diam, kreatif! Terkapar, tetap berdiri!” inilah kecamuk benakku saat mendengar pernyataan banyak rekan wartawan bahwa di saat Pandemi Covid-19 dunia jurnalistik yang bertahun-tahun digeluti mereka tinggal menghitung bulan untuk Terpar (tewas terkapar).

Pernyataan rada-rada naif dari rekan-rekan jurnalis ini terungkap saat Halal Bi Halal (HBH) PWI Kabupaten Tangerang di sekretariat organisasi para wartawan itu di Komplek Perkantoran Cikokol, Kamis 4 Juni 2020 yang dihadiri belasan jurnalistik media-massa cetak dan online.

Aku sebagai Ketua Dewan Penasehat PWI Kabupaten Tangerang diminta menjadi penyampai sambutan pertama, “waw apa yang harus aku sampaikan, selain pernyataan saling memohon maaf pada sesama hadirin, apa mengomentari kegalauan para rekan jurnalis tadi…”

Ya sudah, pikiran di benakku tadi aku sampaikan, dengan ujar-ujar, “bahwa di tengah pandemi Covid-19, di mana semua usaha formal maupun informal tengah dilanda kesusahan, kita harus tabah dan memperbanyak sabar…”

Eh, semua terdiam ketika kusampaikan hal ini. Baiklah, aku lanjutnya, kadung, “ADV-ADV dan iklan-iklan kita abaikan dulu… Kita halal bi halal dulu…” ucapku bernada gurau dan alhamdulillah terjawab dengan wajah-wajah jurnalis yang tadinya berekspresi gulau, mulai berwarna lain dihiasai senyum bibir. “Sukses…” batinku.

ADV (advertising = tulisan bernilai uang karena menulis sesuai permintaan atau sponsor, red) dan iklan sudah berkurang, lanjutku, ya jangan dibikin susah. “Kita kudu kreatif, karena Allah SWT memberi cobaan atau mungkin hukuman melalui Pandemi Covid-19, pasti tidak dibarengi dengan menyetop rezeki yang diberikan-Nya.”

Sebab itu, lagakku nekad bergaya kiayi kondang Pertiwi, “kita harus sabar, kan agama mengajarkan itu. Gantinya kita harus kreatif, pasti ada rezeki dari Allah SWT Yang Maha Kaya, di sana. Ayo jemput rezeki itu…”

Sampai sini, aku segera menghentikan pernyataan sikap pendapatku dengan menutup sambutan, setelah melihat wajah-wajah para jurnalis yang sebagiannya masih muda-muda terlihat berreaksi positif, bukan Reaktif Corona nih! Hahaha.

Sejurus kemudian aku merenung di tengah acara HBH yang terus berlangsung dengan sambutan dari pengurus PWI lainnya, “wah memang semua susah ya, media-massa, UKM, driver ojol, pedagang kaki di mal-mal yang tutup, pekerja pabrik yang dirumahkan dan di-PHK, sampai pemilik dan penjaga toko di pusat-pusat pasar tradisional.”

Sebab itu, jangan heran kata banyak orang, kini pelaku kriminal pencurian meningkat di mana-mana. “Nyes…” batinku mengingatnya. Wabah Corona memang menyusahkan dunia, bukan sisi sosial dan kesehatan saja, tetapi juga keuangan masyarakat, perekonomuan nasional dan dunia. “Wadaw…” tambahan batinku spontan.

Sejurus kemudian, batinku pun melafazkan doa, “Ya Allah ampuni kami, ampuni kesalahan manusia se-dunia, segerakanlah wabah ini berlalu karena telah menempatkan kami, menempatkan manusia di dasar keterpurukan yang sangat dalam…”

Terkait dunia pers – khususnya dunia pers daerah sebut di Tangerang Raya (meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan) – mereka memang sangat bergantung pada ADV, periklanan, kontrak kerjasama pemberutaan sampai langganan bulanan pemerintah daerah.

Begitu terjadi Pandemi Covid-19, maka dana APBD plus APBN nyaris seluruhnya dipakai untuk menanggulangi serta membiayai upaya percepatan dan penanganan Covid-19. Sementara kegiatan pembangunan daerah yang berpotensi raupan pendapatan besar daerah pun “mati-suri”. Semisal di sektor perpajakan daerah, retribusi daerah, dan pendapatan lain-lain daerah.

Jadi tentu saja, telahaan batinku, pemerintah daerah pun secara normal pasti akan menyetop dana bagi dunia pers (sebut biaya langganan, ADV, dan iklan). “Gelo, gelo, kasihan teman-temanku…” batinku yang lalu disambut rasa syukurku bahwa aku masih bisa sedikit lepas dari keterpurukan dalam-dalam karena isteri dan anakku menjadi penopang keuangan keluarga, selain aku baru saja dapat rezeki lumayan besar dari Illahi Robbie.

Padahal dunia pers, tambahan batinku, wajib mengembangkan keseimbangan dua faktor yang kudu diraihnya agar bisa hidup dengan mengemban amanat “Ratu Adil” atau “Pilar Keempat Demokrasi” atau “Pengembang Sosial Kontrol”, yaitu Idealis dan Komersial.”

Idealis sebagai media-massa, pers wajib mengembangkan informasi dan komunikasi terjadi (peristiwa dan/atau pendapat), secara apa adanya (fakta). Semua kegiatan intelektual ini dikerjakan, dirumuskan dan dikelola media-massa, untuk memberi gambaran kepada masyarakat luas dengan sebenar-benarnya dan seakurat-akuratnya.

Ini pekerjaan besar yang membutuhkan banyak tenaga keahlian jurnalistik, teknologi terbaik, sampai tentunya pendanaannya.

“Pekerjaan dunia pers sendiri, yang mengemban fungsi idealis-komersial, mirip uang yang punya dua sisi,” begitu banyak ahli komunikasi berteori. Tak bisa dikembangkan sendiri-sendiri, semisal mata uang hanya ada satu satu sisi dan tak ada yang sisi lainnya, pastinya tak laku. “Begitupun dunia pers, hebat sajian informasinya tetapi tak punya uang, mana bisa hidup, bah!”

Dua pekan sebelumnya, aku yang telah mendengar kesusahan rekan-rekan pers daerah, sempat mencari buktinya dengan menelepon pejabat daerah berwenang ADV dan iklan. Selaku wartawan senior yang punya jejaring lumayan banyak, sombongku, kalau aku meminta ADV atau iklan akan ada kemungkinan besar dijawab positif.

Tetapi jawabannya, “punten kang, semasa Pandemi Covid-19, sesuai kebijakan pimpinan tertinggi tak ada lagi dana untuk itu. Sekarang mah yang diselip-selipin di laci rahasia lemari juga habis terpakai…” candanya tetapi serius. “Wadaw” lagi batinku berteriak.

Kini di saat aku menulis POPSTRA pada Senin 8 Juni 2020, aku membaca berita yang datang dari pernyaaan Ketua PWI Pusat Atal S Depari yang mengapresiasi Gubernur Kalimantan Tengah dan Jawa Timur yang disebutnya telah memperhatikan keberlangsungan hidup dunia pers daerahnya.

Pada 2 daerah itu, pimpinan propinsinya telah menyepakati bahwa dunia pers daerah pun harus mendapat dukungan kehidupan bisnisnya di tengah Pandemi Corona, yaitu dengan tak memotong anggaran bagi kontrak pemberitaan, ADV, dan periklanannya.“Alhamdulillah… “ akhirnya aku mengucapkan puja-puji atas Kehadirat Allah SWT. Mudah-mudahan kebijakan ini diturut oleh pemprop, pemkab, dan pemkot lainnya se-Nusantara. ***

(Visited 80 times, 1 visits today)
Exit mobile version