Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

3 Calon Tunggal di Banten Lawan Kotak Kosong

Gubernur Banten H Wahidin Halim pimpin serah-terima jabatan Plt Walikota Tangerang kepada M Yusuf dan Plt Bupati Lebak kepada Ino S Rawita. ***

TANGERANG [ProBENTENG] – Terjawab sudah pertanyaan siapa plt dan pjs daerah-daerah di Banten yang akan memimpin sementara daerah itu terkait para kepala daerah di daerah-daerah itu menjadi pasangan calon Pemilukada Serentak 2018.

Jawaban ini terkuak saat Gubernur Banten H Wahidin Halim memimpin serah-terima jabatan 2 plt dan 1 pjs di Kantor Gubernur Banten di Serang, Rabu (14/2/2018).

Mereka adalah M Yusuf menjadi Plt Walikota Tangerang, H Hermansyah Pjs Bupati Tangerang, dan Ino S Rawita menjadi Plt Bupati Lebak.

M Yusuf adalah Staf Ahli Gubernur Banten Bidang Pembangunan, Keuangan dan Perekonomian, H Hermansyah adalah Wakil Bupati Tangerang yang tak mencalonkan diri lagi, sedangkan M Ino Rawita adalah Asisten Daerah II Bidang Administrasi Pembangunan Provinsi Banten

Gubernur Banten mengutarakan pertimbangan track-record dari para plt dan pjs kali ini sangat diperhatikannya. Di antaranya para plt dan pjs berdomisili di daerah penugasannya. “Mereka dinilai sudah mengetahui karakter daerah penugasannya karena pernah menjadi ASN di sana.”

Penunjukan plt dan pjs sendiri karena para kepala daerah yang menjadi pasangan calon memang diwajibkan mengambil cuti selama masa pemilukada.

 

KOTAK KOSONG

ProBENTENG menginformasikan di Provinsi Banten untuk tahun 2018 ada 4 daerah yang akan menggelar pemilukada serentak yaitu Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, dan Kota Serang.

Uniknya dari 4 daerah itu terjadi tiga daerah berpemilukada dengan calon tunggal, yaitu Kota Tangerang dengan satu pasangan H Arief RW-H Sachrudin, Kabupaten Tangerang dengan satu pasangan H Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli, serta Kabupaten Lebak dengan satu pasangan Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi.

Pasangan tunggal sesuai peraturan yang terrangkum UU No 10 Tahun 2016 memang dibenarkan digelar pemilukada oleh KPU dengan pasangan calon tunggal melawan kotak kosong.

 

MENANG 50% LEBIH

Aturan mainnya, menurut UU Pilkada No 10 Tahun 2016, calon tunggal dinyatakan menang jika mendapatkan suara lebih dari 50 persen dari suara sah. Namun, apabila kurang dari 50 persen dari suara yang sah, maka yang menang adalah kotak kosong.

Bentuk surat suara pemilukada dengan calon tunggal yang dibuat KPU memuat dua kolom pilihan, yaitu: Kolom pertama berisi foto pasangan calon tunggal yang bisa dipilih masyarakat. Kolom kedua berupa kolom kosong yang juga bisa dipilih masyarakat.

Jika kolom kosong atau kotak kosong menang, selanjutnya pemerintah pusat menugaskan penjabat gubernur, penjabat bupati, atau penjabat walikota untuk memimpin daerah itu.

Pasangan calon tunggal yang kalah dibenarkan untuk mengikuti pemilukada serentak berikutnya di daerahnya kembali. [musadad]

(Visited 106 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *