Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Assalamualaikum Ya Rosulallah, Wangi Tercium, Airmata Menetes

NAIK haji dan berangkat Umroh di tahun 2020 telah ditiadakan sementara karena Pandemi Covid-19 oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, kecuali jemaah haji lokal.

Akibatnya, banyak jemaah calon haji dan jemaah calon umroh asal Indonesia dan dunia menjadi kecewa hatinya. Namun rasa kecewa itupun dibarengi dengan pemakluman keadaan yang memaksa peniadaan sementara ibadah ke tanah suci itu.

“Ya Robbie, ampuni kami…” batinku memohon kepada Yang Maha Pencipta dan Maha Pengampun, mengenang kekecewaan para jemaah yang batal berangkat beribadah ke tanah suci tahun ini, dengan pengharapan ridho-Nya untuk segera menghapuskan Wabah Virus Covid-19 sehingga para jemaah selanjutnya bisa berangkat ke tanah suci di tahun mendatang.

Di tengah batinku mengenang kekecewaan para jemaah calon haji, aku jadi teringat pada suka-duka saat aku berangkat haji di tahun 1994. Lalu aku pun teringat pada kejadian rohaniah yang membuat batinku bahagia dan terharu saat naik haji, yang ingin kubagi kepada para sahabatku melalui tulisan kenang-kenangan ini.

“Wow, baru berusaha mengenang kejadian rohaniah itu saja, hatiku kembali berbunga-bunga…” batinku. “Serius nih sahabat…” tambahku, hahaha!

[darsitek number=3 tag=”sembako”]

Kejadian membahagiakan hati itu, bermula saat aku bersahabat dengan seorang ustadz muda dalam melaksanakan rangkaian prosesi haji, mulai dari peribadatan Sholat Fardu Arbain di Masjid Nabawi hingga Prosesi Haji di Masjidil Haram dan sekitarnya.

Tentu saja, sebagai sahabat, kami hampir di setiap saat bersama-sama, memang termasuk juga dengan sejumlah sahabat lainnya. Hanya saja kami menjadi lebih akrab karena aku dan sahabatku pergi haji masing-masing membujang, sorangan, tanpa isteri. “Hehehe, maklum mungkin rezekinya baru sampai di situ,” kenangku.

Kebersamaan ini, mulai kami lakukan saat menunaikan Sholat Lima Waktu, baik di Masjid Nabawi, Kota Madinah maupun di Masjidil Haram, Kota Mekah. Termasuk membeli makanan, minuman, oleh-oleh, sampai ngopi bareng.

Bahkan saat berdoa, sahabatku yang ustadz sangat faseh melafazkannya, lalu aku memilih untuk tinggal mengamininya saja, dengan berada disampingnya. “Hahaha, praktiskan bro!”

Suatu ketika, sahabatku ini, saat berada di Madinah, memberitahu satu rahasia sangat penting kepada diriku. Kata dia, “saat di dalam Masjid Nabawi, kita sehabis sholat sunah sambil menunggu sholat fardu, sesegera mungkin memberi salam kepada Rosulallah, Muhammad SAW, sambil melambaikan tangan sebagai tanda salam ke makam Rosulallah yang disebut Raudah, dengan mengucapkan: Assalamualaikum Ya Rosulallah…”

Insya Allah, lanjutnya dengan keseriusan hati, “bila Rosulallah berkenan menjawab salam kita, maka hembusan wangi akan segera tercium oleh indera hidung kita, dan air mata akan tak tertahan menetes sendiri tanpa disadari.”

Sontak aku tertegun atas informasi rahasia kerohanian yang sangat penting ini. Kusebut rahasia karena aku baru mengetahui adanya aktifitas kerohanian sedahsyat itu. Sebab, terus-terang, aku tak pernah membaca informasi tentang itu, baik di artikel media-massa ataupun buku panduan.

“Waw, ini rahasia paling rahasia,” batinku. “Karena aku baru tahu, dan tentu saja aku ingin sesegera mungkin melaksanakan rahasia ini. Sebab siapa sih, umat Muslim yang tak ingin mendapat jawaban salam dari Makhluk Termulya di Dunia,” batinku senang mendapatkan informasi sangat penting dari sahabatku itu.

Sekaitan itu, maka ketika aku dan sejumlah sahabatku Sholat Zuhur di Masjid Nabawi, sehari berikutnya, sesuai anjuran sahabatku setelah Sholat Sunnah sambil menunggu Sholat Zuhur, maka akupun segera melaksanakan rahasia rohaniah itu.

“Assalamualaikum Ya Rosulallah…” ucapku bergetar. Mungkin disebabkan pengharapan besar kerohanian, entah kenapa ucapanku yang kuucapkan di dalam hati terasa sangat dalam, yang lalu aku barengi dengan mengangkat tangan ke arah Raudah.

“Subhanallah,” berbarengan ucapan salamku, hembusan wangi segera tercium hidungku dan beberapa butir air mata tanpa terasa menetes ke pipi. Seketika suasana kerohanian terdalam pun menyergap batinku. “Allahu Akbar…” puja-pujiku buat Allah SWT menyambut keajaiban itu.

“Terima-kasih Ya Rosulallah, engkau telah menjawab salam umatmu ini…” batinku dengan penuh keharuan dan kebahagiaan hati, waktu itu.

Ternyata perasaan itu, kini masih terbawa saat aku menuliskan peristiwa kerohanian itu, 26 tahun kemudian. Aku di depan komputerku masih disergap keharuan dan kebahagiaan tak terkira.

Namun sejurus kemudian, kebahagiaanku ini dibarengi pula dengan perasaan khawatir, Rosulallah akan marah kepadaku karena dari rentang waktu hidupku, saat Naik Haji di tahun 1994 sampai kini tahun 2020, rasanya sebagai manusia biasa ada banyak kesalahan yang telah aku buat. “Maafkan aku Ya Rosulallah…”batinku.

Segera pula, aku memanjatkan doa kehadirat Allah Yang Maha Pengampun, “Ya Allah ampunilah segala kesalahanku, baik yang kecil maupun yang besar, yang tak disengaja ataupun disadari. Tanpa ampunan-Mu, Ya Allah, hambamu takut Neraka. Ampunilah segala dosaku serta terima dan perbanyaklah amal-ibadahku. Amin, Ya Robbal Alamin…” ***

(Visited 79 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *