Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Benahi Stadion Benteng, Pemkot Diminta Judicial Review UU No 2 Tahun 1993

Stadion Benteng di Jl TMP Taruna, salah satu aset Pemkab Tangerang yang belum diserahkan kepada Pemkot Tangerang. *

TANGERANG [ProBENTENG] – 25 tahun sudah Kota Tangerang berdiri, namun permasalahan aset antara Pemkot Tangerang dan Pemkab Tangerang masih belum dapat terselesaikan dengan baik, terutama aset Stadion Benteng yang kondisinya semakin memprihatinkan.

Hal itu disampaikan HM Sjaifuddin Z Hamadin, Anggota DPRD Kota Tangerang dari Fraksi PAN saat ditemui di Ruang Komisi IV DPRD Kota Tangerang, Jumat (21/9/2018).

Menurutnya salah satu faktor kunci persoalan aset ini adalah UU No 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang dimana di dalam pasal 13 yang mengatur tentang aset antara dua daerah tersebut berbunyi kalimat dianggap perlu diserahkan.

“Kalimat itu yang menjadi masalah, bunyi dianggap dalam hal ini berarti jika dianggap perlu oleh Pemkab Tangerang baru diserahkan ke Pemkot Tangerang. Dengan begitu Pemkot Tangerang hanya bisa menunggu dari Pemkab Tangerang. Nah kalo begini kan tidak jelas kapan penyerahannya,” jelasnya.

Untuk itu Pemkot Tangerang sebaiknya mengajukan judicial review terhadap UU tersebut kepada Mahkamah Konstitusi agar bisa menghapus kalimat “dianggap” sehingga berbunyi menjadi perlu diserahkan. “Saya yakin dengan begitu semua persoalan aset antara Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang kelar,” tambah Sjaifuddin.

Termasuk mengenai Stadion Benteng yang merupakan salah satu aset Pemkab Tangerang, dirinya akan terus memperjuangkannya. “Saya akan terus perjuangkan ini. Kasihan melihat kondisi Stadion Benteng seperti itu, dibiarkan saja hingga terbengkalai. Warga juga kan jadi bertanya – tanya masalah ini. Mereka menginginkan kerja nyata dari pemerintah mengenai nasib stadion itu,” kata Sjaifuddin.

Lalu sebagai itikad baik harusnya kedua pimpinan Walikota Tangerang H Arief R Wismansyah dan Bupati Tangerang H Ahmed Zaki Iskandar duduk bareng untuk membicarakan soal ini. “Mereka bicara lah dari hati ke hati. Jangan pentingkan gengsi. Ini soal kebersamaan dan untuk masyarakat Tangerang juga,” sambungnya. [imron]

(Visited 96 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *