Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Di Tanah Suci: Kesombongan Berarti Kepayahan

ENTAR di tanah suci jangan sombong ya… Biasanya kalau sombong akan dibalas Allah SWT secara langsung di sana…” begitulah para seniorku yang telah pergi haji mewanti-wanti sesaat mereka mendapat kabar aku akan pergi haji.

Aku yang mendapat pesan, tentu saja, dengan penuh perhatian mengangguk-angguk kepala, tanda paham. Nyatanya, beda! Ternyata saat di tanah suci, malah aku bersama sejumlah sahabat agak nyombong dan langsung dibalas Allah SWT dengan kepayahan pulang ke maktab, yang kini menjadi kenang-kenangan manis yang bisa menjadi hiburan batin. 

Memori di tahun 1994 itu, sengaja aku tulis sebagai pengobat rindu bagi para sahabat para jemaah calon haji yang batal berangkat ke tanah suci di tahun ini karena Pandemi Corona. Namun yang pasti, peristiwa kesombongan 26 tahun lalu itu masih saja terbayang di batinku dan membuatku tersenyum meskipun dibarengi sedikit rasa malu.

Kisahnya dimulai dengan kesombongan yang terkesan sepele aja, yaitu ketika aku bersama 3 sahabatku seringkali menertawai para sahabat yang telah berusia uzur nyasar pulang ke maktab (semacam hotel yang sederhana sekali), tempat menginap para jemaah haji satu kelompok terbang (kloter).

Para orangtua, sahabat kami itu, beberapa di antaranya pulang ke maktab dengan napas terengah-engah karena nyasar di jalan pulang dari Masjidil Haram ke maktab di Jl Jabal Kaaba, Mekah. Kami seringkali semua tertawa puas menyaksikan para orangtua yang bercerita betapa susah-payahnya mereka mencari jalan pulang, sampai-sampai harus ditolong orang lain.

[darsitek number=3 tag=”sembako”]

Lalu, dengan sejumlah teori dadakan, kami memberi nasehat agar para orangtua menghapal jalan pulang-pergi dari mesjid ke maktab. Misalnya mengingat billboard iklan terpasang di tepi jalan, atau mengingat gedung khas, atau mengingat lokasi yang bisa diingat-ingat untuk jalan pergi-pulang.

“Hahaha…” semua tertawa dan si orangtua yang nyasar pun tersenyum, meskipun senyum kecut.

Eh, ternyata urusan kesombongan yang terkesan sepele ini dibalas langsung Allah SWT dengan kepayahan kami di hari berikutnya untuk menentukan arah pulang dari Masjidil Haram ke maktab.

Kami terdiri, aku seorang wartawan yang biasa mencari alamat sumber liputan, temanku seorang ustadz muda yang fasih berbahasa Arab, temanku yang lain pemilik pondok pesantren kecil yang naik haji untuk ketiga kalinya, dan satu temanku lainnya adalah pedagang setengah jawara yang naik haji untuk kedua kalinya.

Rasa-rasanya urusan nyasar mah gak bakal terjadi, kali…” batinku waktu itu, sesaat menertawai para orangtua, sahabat kami.

Nyatanya, kami selepas Sholat Ashar di Masjidil Haram, yang lalu bersepakat pulang dulu ke maktab, baru sesaat menjelang Magrib balik lagi ke mesjid, ternyata Alhamdulillah nyasar juga.

Nyasar kami diawali dengan antrean jemaah saat keluar Masjidil Haram. Setiap jemaah harus berjalan pelan-pelan karena berdesakan. Apalagi, saat aku pergi haji di tahun 1994 adalah Haji Akbar yaitu berhaji yang Hari Idul Adha jatuh di Hari Jumat, sehingga jemaah haji dari seluruh dunia beterbangan ke tanah suci.

Disebabkan desak-desakan keluar mesjid dan kami pun berempat keluar sambil asyik ngobrol ngalor-ngidul, sekeluar mesjid kehilangan arah pulang. “Eh… di mana nih,” kataku kepada 3 sahabatku, yang sekejap kemudian juga menjadi kaget karena lokasi berdiri kami terasa asing. “Waduh di mana nih…” tambah usatdz sahabatku yang semakin membuat kami kaget.

Kemudian dengan keyakinan berlebih, sahabatku yang untuk ketiga kalinya naik haji, menunjuk satu arah, kami pun dengan penuh keyakinan kepadanya berjalan ke arah yang ditunjuk, masih dengan obrolan ngalor-ngidul.   

Namun, semakin jauh melangkah, semakin terlihat suasana yang dilalui terasa asing di pandangan mata kami. “Eh kita nyasar nih…” kataku. Tetapi, temanku segera angkat bicara lagi, “entar juga sampe maktab. Sabar, ini jalannya…” Aku yang rerada waspada hanya nyengir, karena setengah yakin, nyasar!

Dua puluh menit berlalu tanpa kejelasan arah maktab, padahal mestinya 15 menit dari mesjid ke maktab sudah sampe. Nah, kini kami menjadi tersadar nyasar, sar! Segera berundinglah kami sambil mengingat-ingat jalan pulang dan memutuskan untuk bertanya kepada orang-orang yang ditemui di jalan.

Tampil sahabat ustadz, dia bertanya kepada orang Arab yang pertama kali dijumpai dengan bahasa Arab. Namun ajaib jawabannya, “La… La… La… (artinya, tidak… tidak… tidak…

“Gelo tah jeuleuma…” batinku dengan bahasa Sunda Benteng menyadari jawabannya kok tidak, aneh kan!

Namun kami masih tersenyum-senyum mendengar jawaban urang Arab tadi. Kini giliran kami menemukan seorang petugas polisi tengah memantau lalulintas di kawasan Masjidil Haram untuk ditanya. “Pucuk dicita ulam tiba, nih” kataku kepada para sahabat, yang lalu disusul ustadz sahabatku tampil ke depan untuk bertanya kepada askar itu dalam bahasa Arab, arah Jl Jabal Kaaba.

Keajaiban terjadi lagi, kali ini si askar dengan wajah cemberut, menjawab, “moya… moya… (artinya, air… air…)” Wah… kenapa nih, batinku. “Kok, kami tak mendapat jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya sederhana.”

Di tengah kebingungan, kami kembali bererotan jalan kaki menyusuri kawasan-kawasan sekitaran Masjidil Haram untuk pulang. Menara masjid yang tinggi di arah samping kiri masih terlihat oleh kami, sehingga bisa menjadi patokan bahwa kami masih berada di sekitaran mesjid.

Akhirnya, kami lelah juga berjalan kaki cukup jauh dan gak ketemu-ketemu jalan pulang. Sekelebat berikutnya, lewat pedagang es kacang hijau yang dijual mukimin orang Indonesia. Segera saja kami membelinya sambil ngasoh di tepi jalan. “Sruput, sruput,” suara air es disedot pun terdengar, haus sih!

Sejurus kemudian, sesaat lelah berkurang, ketika kepala panas terusir dingin es kacang hijau, tersadarlah kami ini adalah hukuman atas kesombongan kami yang seringkali menertawai para sahabat orangtua yang nyasar. Pandangan kami disesatkan Sang Maha Pemberi Pertunjuk Astaghfirullah Hal Adzim…  Astaghfirullah Hal Adzim… Astaghfirullah Hal Adzim…”

Kami pun tafakur sejenak dan memohon ampunan Illahi Robbie atas kesombongan kami. “Yayaya… Ini hukuman kesombongan kita yang sering menertawai orang-orangtua nyasar…” kataku kepada para sahabat yang hanya menganggukan kepala, kaget!

Setelah itu, plong aja, pikiran kami terbuka, sehingga bagai berbarengan berkata, “kita kembali ke mesjid dulu dan dari sana memulai langkah sesuai arah yang kita hapal untuk pulang.”

Maka kami pun segera kembali ke arah Masjidil Haram dengan berjalan lebih cepat, eh ternyata belum sampai ke halaman masjid yang luas, kami telah menemukan arah jalan pulang. “Alhamdulillah…” kami pun segera memanjat puja-puji Kehadirat Allah SWT.

Sesampai maktab, waktu magrib tinggal 1,5 jam lagi, yang berarti kami menempuh perjalanan pulang berkisaran 2 jam. Setibanya di maktab, kami disambut para orangtua, sahabat kami sekamar besar, dengan lontaran banyak pertanyaan. “Kemana aja sih, kok lama bener…” protes mereka dengan wajah sebel karena kami memang menjadi penghibur mereka dengan banyak candaan jenaka. 

Akhirnya dengan kejujuran hati, kami pun memberitahu kami nyasar serupa mereka saat akan pulang dari mesjid. Lalu kami pun meminta maaf karena sebelumnya seringkali menertawai mereka yang nyasar. Kali ini mereka yang terpingkal-pingkal menertawai kami. “Busyet…” batinku sambil bibir tersenyum. ***

(Visited 98 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *