Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Gowes Bareng Goyang Covid-19

I WANT To Ride My Bycicle…” sepenggal lagu Bycicle Race dari Grup Rock legendaris Queen kunyanyikan saat aku berkendaraan sedan Vios kesayangan di Jl M Yamin, Babakan, Kota Tangerang, pada akhir pekan ketiga Juni 2020, sesaat aku kembali melihat ada kelompok masyarakat bersepeda di jalan protokol itu untuk berkeliling kota.

Padahal sebelumnya, aku pun sempat melihat kelompok masyarakat bersepeda bareng, juga dengan niat keliling kota, di Jl TMP Taruna, Jl Daan Mogot, dan Jl Kisamaun. “Waw rame bener seliwar-seliwer bersepeda kini…” batinku.

Sejurus kemudian, aku tersadar, rupanya Gowes Bareng di masa New Normal Pandemi Covid-19 memang menjadi trend baru masyarakat. Mereka mencari aktifitas lebih leluasa di alam terbuka sambil berupaya meraih kebugaran tubuh, sebagai bagian dari penangkal paparan Virus Covid-19, yang bisa saja ada di dekat mereka.

Para anggota kelompok Gowes Bareng ini tak mempedulikan jenis sepeda yang dikendarainya – mau sepeda mahal boleh, sekedar sepeda bisa jalan gpp, sampai perlengkapan helm dan kaosnya ngasal juga sebodo amat – yang penting bebas bergerak, gak selalu dirumahajadulu, tetapi tetap dengan menjalankan protokol kesehatan dan berusaha meraih kebugaran tubuh.

Nyoi bener…” bisik hatiku. Bisik hati karena merasa surprise itu, dibisiki hatiku tanpa sadar kalau kata “Nyoi” rasanya tak ada padanannya di Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). “Hehehe, gpp…” kata hatiku lagi ikut bersenang-ria melihat kegembiraan para kelompok Gowes Bareng.

Sebab itu pula, saat teman segrup WA yang rata-rata telah berumur di atas gocap, berdiskusi cara santai bersama anggota grup di saat pandemi Covid-19, aku sampaikan ide dengan ajakan agar teman-teman se-WA grup untuk Gowes Bareng Keliling Kota Tangerang dengan start dan finish di Jl M Yamin.

Nanti sebelum pulang, selanjutnya kita bisa makan Laksa bareng di tenda kelompok dagang Laksa Kota Tangerang dengan tetap menjalankan protokol kesehatan,” kataku di WA grup. Namun sayang, tak ada gayung-bersambut, jadi ya nihil, hil!

Sejurus kemudian lagi, aku teringat pada niatku untuk berolahraga sepeda keliling kampung pasca Lebaran, mumpung aku punya sepeda gunung murah seharga satu jutaan, yang masih ada di gudang. “Lumayanlah untuk olahraga di masa Pandemi Covid-19,” batinku.

Niat ini muncul di siang hari, pas lagi kehausan menjalankan Puasa Ramadhan, “tetapi heheh aku lupa mewujdukan niatku itu, sampai saat aku nulis.”

Terkait itu pula, aku jadi teringat peristiwa yang memiriskan rasa kedermawananku tentang sepeda murah itu, yaitu ketika aku menolak memberikan sepeda itu untuk anak temanku yang katanya akan dipakai bersekolah. Permintaan itu disampaikan temanku per WA ke HP-ku menjelang Lebaran.

Wah aku mau pake olahraga keliling kampung nih…” jawabku di WA jawaban waktu itu karena masih anget niat hati bersepeda pasca Lebaran. Jawaban ini sendiri, sampai sekarang masih mengganggu pikiranku, “kira-kira bunyinya begini, kok aku jadi pelit begendong. Kenape lu…

Kemudian lagi, sejak menjawab WA itu, aku terus mencoba mencari jawaban pas penyebab aku jadi rada-rada pelit begitu, yang sebenarnya bukan kebiasaanku (sombing dikit, gpp-lah).

Namanya juga mencari alasan jawab, lalu aku rumuskan jawabannya menjadi 3 faktor, bergaya ilmiah nih. Pertama, sepeda itu memang sebelumnya sudah aku niatkan untuk dipakai olahraga keliling kampung pasca Lebaran. Kedua, sepeda itu aku beli 8 tahun lalu untuk anakku belajar sepeda, jadi sepeda itu sebenarnya milik anakku. Ketiga, aku malas mengambil sepeda itu di gudang lantai atas rumah.
Nah itu jawaban pasnya kan, hehehe ayaayawae. ***

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *