Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Lansia Zaman Now, Ya Lunamaya…

GEGARA aku iseng kirim video sejumlah lansia mendapat keistimewaan naik komedi putar, entah di kampung mana lokasinya ke WA Grup (WAG) Konco Lawas – Grup WA para wartawan senior dan mantan wartawan yang tinggal di Tangerang Raya – akhirnya bahasan lansia (lanjut usia) pun tersaji selama sekitar 3 jam di WAG ini.

Video itu sendiri aku teruskan dari penayangan Sangki Wahyudin, Ketua PWI Kabupaten Tangerang di WAG PWI Kabupaten Tangerang. Dengan kalimat pendampingnya, “Akibat kebanyakan di rumah.”

Tujuanku memang agar WAG Konco Lawas ramai membahas ala diskusi seenak-udelnya di warung kopi melibatkan para lansia di WAG ini. Ternyata gayung bersambut mulut untuk minum langsung dari gentong di siang hari – Safril, Pimpinan Media Online Tangerangnet.com, langsung nyamber dengan kalimat pendek layaknya geledek di siang bolong, “Kembali ke fitrahnya.

Aku langsung sambut dengan simbol tawa, “wkwkwk…” Sekejap kilat blits kamera, M Isa Gautama, Mantan Wartawan Berita Buana – juga langsung nyamber dengan komentar pendek nyeleneh, “Kita udh lanjut usia blum ya? Segera kubalas layaknya pedang menangkis golok menyamber. “Usianya ya, semangat 17 agustus…”

Setelah itu, aku sampaikan pernyataan tulus bagi para koncoku yang lansia, “Selamat Hari Lansia para konco… Dengan ucapan canda, ‘hati hati jajan, entar simpanan pensiun beaaaak.”

Ternyata tangkisanku tak dibiarkan begitu saja, kali ini  Saut Pasaribu, Mantan Wartawan Koran Suara Karya, menimpali, “He…he….!!! Dari pada gak (di) nikmati, mungkin lebih baik dinikmati, ji…! Toh, klo sudah saatnya, tak ada yg bisa ngelak…!!! Selamat hari lansia juga lah…!!!!” katanya dengan logat etnis kelahirannya, hehehe.

Setelah itu, kami berdua ditambah Marlan Sembiring, Mantan Wartawan Sinar Pagi, saling memanjatkan doa untuk para lansia di WAG paling sableng di banyak WAG, agar konco para lansia selalu bugar, sehat, kreatif dan bahagia di hari senja.

Sebentar kujelaskan, aku sebut WAG sableng karena anggotanya para mantan wartawan dan para wartawan senior yang telah banyak makan asam, garam, tahu-tempe, sambel dadak + ikan gurame bakar, dan ketoprak di pinggir jalan. Sehingga, kayaknya, komentarnya rada-rada bener adanya meskipun bahasan dan bahasanya seenaknya tarian breakdance.

Sejurus kemudian untuk memenuhi rasa kreatifnya, Marlan Sembiring lalu mengirim video berisi lagu pelesetan, “Siapa bilang lansia tidak berguna / bangun pagi, sembahyang tuk anak-cucu / Siapa bilang lansia hanya hiasan / meskipun tua tetap diperlukan.”

Lagu pelesetan ini dari lagu asal Menado dengan judul “Balada Pelaut” yang dipopulerkan Tamtowi Yahya. Bait syair awalnya begini, “Sapa Bilang Pelaut Mata Keranjang / Kapal Bastom Lapas Tali Lapas Cinta / Sapa bilang pelaut pamba tunangan / Jangan percaya mulut rica rica.”  

Nah ini yang gelo, komentar dari Syamlawi, Redaktur Senior Koran Warta Banten, “Bocah juga tergolong lansia…. Kan bos?” Nah lu, kenape komentar gitu! Masih mending komentar Aditya Warman, Wartawan Senior LKBN Antara, “LUNAMAYA (lanjut usia namun masih gaya)  tq.”

Sebelum terlanjur jauh berkomentar panjang dan lebar sejagat-raya, aku sodorkan lahirnya sebutan Hari Lanjut Usia dari wikipedia, “Hari Lanjut Usia Nasional (Hari Lansia) merupakan salah satu hari penting di Indonesia yang diperingati setiap 29 Mei sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap orang lanjut usia. Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, Lansia adalah orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.”

Kali ini M Nasir, Mantan Sekretaris Redaksi Harian Kompas, menimpali, “Enak jadi lansia, mengurus paspor didahulukan, ngurus sertifikat tanah didahulukan, naik kereta didiskon, masuk tempat hiburan gratis, dimana-mana dihormati, dekat perempuan tidak dicurigai dan tidak ditakuti krn mereka tahu kita bukan orang yang membahayakan diri mereka…”

Aku segera balas dengan gaya kaum melenial, “Wkwkwk…” Yang lalu disundul Marlan Sembiring, “Bisa aja pak Nasir,  semoga demikian… Amin, selamat hr Jumat” M Nasir lalu menjelaskan, “Itu pengalaman saya selama jadi lansia pak Marlan…”

Selanjutnya bagai menutup diskusi ala lansia nunggu waktu Sholat Zhuhur karena gak Jumatan di masjid masih masa Pandemi Corona, M Isa Gautama, nyeletuk, “Sebenarnya sahabat2 konco lawas belum bisa disebut lansia lah… kita belum pake tongkat, mash bisa jalan cepat dan tegak, mash bisa naik motor, mash bisa nyupir mobil, mash kuat *** istri dan mash2 banyak lagi yg bisa dilakukan seperti orang muda pd umumnya…”

Tambahnya dengan baper (bawa perasaan, juga istilah kaum milenial), “Kalo lansia itu, jalan sudh tertatih2, badan sudah membungkuk dan banyak perlu bantuan orang lain untyk bergerak…. Semangat sobat, mumpung mash gagah…hehehe” Nah lu, serukan diskusi semaunya dari para mantan wartawan dan wartawan senior tergabung dalam WAG Konco Lawas. ***

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *