Probenteng.com

Media Online Tangerang dan Sekitarnya

Kembali Aktif dan Produktif, Kenali Peran Rehabilitasi Medik serta Layanan Prostetik di RSUD Kota Tangerang

Kembali Aktif dan Produktif, Kenali Peran Rehabilitasi Medik serta Layanan Prostetik di RSUD Kota Tangerang

TANGERANG [ProBENTENG] – Keterbatasan fisik akibat penyakit, cedera, operasi, hingga amputasi bukan berarti akhir dari aktivitas dan produktivitas seseorang. Melalui layanan Rehabilitasi Medik di RSUD Kota Tangerang, pasien memiliki kesempatan untuk kembali mandiri, beraktivitas, bahkan meraih kualitas hidup yang lebih baik.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) RSUD Kota Tangerang, dr. Asri, menjelaskan bahwa Rehabilitasi Medik merupakan layanan medis yang berfokus pada pemulihan fungsi dan kemampuan tubuh yang mengalami gangguan akibat penyakit maupun cedera.

“Tujuan utama rehabilitasi medik adalah membantu pasien mencapai kemampuan terbaik sesuai dengan kondisinya. Mulai dari berjalan kembali, melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, hingga kembali bekerja dan berinteraksi sosial,” ujar dr. Asri.

Menurutnya, rehabilitasi medik juga berperan penting dalam mencegah berbagai komplikasi yang dapat muncul setelah sakit atau cedera, seperti kekakuan sendi, nyeri berkepanjangan, hingga luka tekan akibat terlalu lama berbaring.

Layanan ini melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis rehabilitasi medik, fisioterapis, okupasi terapis, psikolog, serta tenaga kesehatan lainnya sehingga proses pemulihan dilakukan secara menyeluruh.

Mengenal Ortotik dan Prostetik

Di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Tangerang, tersedia layanan ortotik dan prostetik yang dirancang sesuai kebutuhan masing-masing pasien.

Ortotik merupakan alat bantu yang berfungsi menopang, meluruskan, atau mengurangi nyeri pada bagian tubuh tertentu. Alat ini biasanya digunakan oleh pasien stroke, skoliosis, cedera ligamen, osteoarthritis, hingga kelainan bentuk tulang dan anggota gerak sejak lahir.

Beberapa contoh alat ortotik antara lain korset penyangga tulang belakang, insole khusus, knee brace, hingga Ankle Foot Orthosis (AFO) yang digunakan untuk membantu pasien dengan kondisi foot drop.

Sementara itu, prostetik merupakan alat pengganti anggota tubuh yang hilang akibat amputasi karena kecelakaan, diabetes, tumor, maupun penyebab lainnya. Contohnya adalah kaki palsu dan tangan palsu yang dirancang sesuai kondisi pasien.

Prostesis Bantu Pasien Kembali Mandiri

dr. Asri menegaskan bahwa penggunaan prostesis memungkinkan penyandang amputasi untuk kembali menjalani aktivitas secara normal dan mandiri.

“Dengan prostesis yang tepat, latihan yang intensif, serta motivasi yang kuat, banyak pasien mampu kembali bekerja, berolahraga, mengendarai kendaraan, bahkan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa hambatan berarti,” jelasnya.

Meski membutuhkan masa adaptasi, kemampuan fungsional dan kepercayaan diri pasien umumnya meningkat seiring berjalannya waktu.

Proses Pembuatan Prostesis

Di RSUD Kota Tangerang, proses pembuatan prostesis diawali dengan konsultasi bersama dokter spesialis rehabilitasi medik untuk mengevaluasi kondisi pasien dan menentukan jenis alat yang dibutuhkan.

Selanjutnya dilakukan pengukuran serta pencetakan bagian tubuh yang akan dipasangi prostesis. Tahap ini menjadi sangat penting karena menentukan kenyamanan penggunaan alat.

Setelah itu pasien menjalani tahap uji coba atau trial socket untuk memastikan tidak ada titik tekanan yang menimbulkan rasa nyeri. Jika diperlukan, teknisi akan melakukan penyesuaian sebelum prostesis final dipasang.

Setelah pemasangan, pasien akan mendapatkan latihan khusus bersama fisioterapis untuk melatih keseimbangan, berjalan, naik turun tangga, dan berbagai aktivitas lainnya. Evaluasi berkala juga dilakukan untuk memastikan prostesis tetap nyaman dan berfungsi optimal.

Disesuaikan dengan Kebutuhan Pasien

dr. Asri menekankan bahwa setiap alat prostetik dibuat secara individual dan tidak memiliki ukuran standar seperti pakaian.
Penyesuaian dilakukan berdasarkan bentuk serta panjang sisa anggota gerak, berat badan, usia, kondisi kulit, jenis aktivitas, hingga tujuan yang ingin dicapai pasien.

“Seorang pekerja lapangan tentu membutuhkan spesifikasi yang berbeda dengan ibu rumah tangga atau lansia. Karena itu prosesnya harus melalui evaluasi dan diskusi bersama tim rehabilitasi medik,” katanya.

Jangan Menyerah pada Kondisi Fisik

Sebagai penutup, dr. Asri berpesan agar masyarakat yang mengalami keterbatasan fisik tidak kehilangan harapan.

“Kecacatan fisik bukan akhir dari hidup, melainkan awal dari cara baru untuk menjalani kehidupan. Tubuh boleh berubah, tetapi mimpi dan tujuan hidup tidak harus berhenti. Dengan rehabilitasi medik dan alat bantu yang tepat, banyak pasien dapat kembali bekerja, bersekolah, berkeluarga, bahkan menjadi atlet,” ungkapnya.

Ia mengajak pasien untuk tidak ragu berkonsultasi dan menyampaikan target yang ingin dicapai, sekecil apa pun tujuan tersebut.

“Mulailah dari target sederhana, seperti ingin salat mandiri atau menggendong cucu. Dari target kecil itulah kemandirian besar bisa dibangun. Yang terpenting adalah menerima kondisi, terus berlatih, dan mampu beradaptasi,” tutupnya. [adv]

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *